Selasa, 18 November 2008

perpisahan itu...

Hari ini tepat satu tahun sembilan bulan dua belas hari kami bersama, sudah banyak sekali kejadian-kejadian hebat yang telah kami lalui. Dan hari ini, seperti biasa, kami semua berkumpul dalam sebuah rutinitas pekanan kami, halaqoh. Berbeda dengan pertemuan-pertamuan sebelumnya, pertemuan pekan ini cukup menegangkan bagi kami. Bukan karena test yang akan kami alami, atau evaluasi yang akan dilakukan oleh sang murabbi, apalagi setoran hafalan yang harus di hadapi. tapi perpisahan lah yang akan kami jalani.

Pagi ini kudatangi tempat ngajiku dengan perasaaan yang penuh dengan kehambaran. Sebuah perpisahan yang sangat memilukan hati akan aku alami. Hatiku menangis, bertanya-tanya dalam diri, dimanakah ukhuwah yang telah terjalin selama ini. Perjuangan, rasa berbagi, juga senyuman seorang sahabat yang selalu menghiasi seakan tak pernah terjadi...

Kami memulai rutinitas kami dengan penuh kehambaran. Tak ada lagi canda tawa, tak ada lagi senyuman, dan tak ada lagi guyonan yang biasa menyertai rutinitas kami ini...

Linangan air mata bercucuran mengiringi kata-kata mutiara yang diberikan sang murabbi dalam seberkas materi wada nya. Akh Deden, akh Hendra, akh Indra, dan juga aku sendiri sendiri hanya mampu tertunduk dan tak berani memandang sedetik pun wajah sang murabbi yang begitu berwibawanya menyampaikan nasihat terakhirnya ini.

Ka saiful, sapaan akrab kami terhadap beliau. Memang sudah kami anggap sebagai kakak kandung kami sendiri. Peran beliau yang mampu memposisikan diri di berbagai waktu membuat kami sangat nyaman ketika berada disamping beliau. Ketika kami sedang futur beliau hadir sebagai sosok ayah yang sedang menasehati anak-anaknya. Ketika kami sedang tertimpa musibah beliau hadir sebagai seorang sahabat sejati yang tak henti-hentinya memotivasi kami dengan kata-kata yang mencerahkan hati.

Linangan air mataku tak henti-hentinya bercucuran hingga membasahi pipi ini. Terdengar pula isak tangis dari saudara-saudaraku yang lain. Aku mencoba menenangkan diriku. Aku mencoba menyimak nasihat yang diberikan sang murabbi dengan khusyunya. Dalam pikiranku berkelebat bayang-bayang memori indah yang menghiasi kebersamaan kami selama ini. Kuingat waktu dimana kami mengisi hari-hari bersama dengan penuh canda tawa, suka duka, dan saling berbagi.

Kuteringat sosok akh Deden yang begitu semangatnya dalam mengejar apa yang dia yakini sehingga membuatku tak bosan untuk mengejar apa yang kucita-citakan. Dengan kerja keras, tak mengenal lelah, juga rasa optimis adalah sebuah hal yang berharga yang bisa ku teladani dalam sosok sahabatku ini..

kuteringat akan sebuah nasihatnya yang menjadi penghias semangatku dalam bekerja selama ini.


“bekerjalah dengan giat dan tak perlu malu jika apa yang kita kerjakan bukanlah sebuah hal yang terlarang”.


Tangisku semakin menjadi-jadi...


tiba-tiba terlintas dipikiranku sebuah kenangan manis dengan mas'ul ku, akh hendra. Dia lah yang mengenaliku pertama kali arti sebuah ukhuwah dan tanggung jawab. Ketika ku melihat semua orang sudah tak memperdulikan lagi akan arti sebuah persahabatan, dia datang dan mengajariku dengan kepribadianya yang ketika itu ku melihatnya harus belari-lari kecil ditengah guyuran hujan hanya demi menepati janjinya menjenguk teman kami yang sedang jatuh sakit. Itu semua menyadariku, bahwa dakwah bukan hanya kata-kata. Tapi dakwah juga menuntut sebuah bukti dari sebuah argumentasi. Itulah yang di contohkan mas'ul kami ini. Dia yang secara terus terang belum mau untuk memiliki seorang mutarabbi, tapi dengan akhlaknya, Dapat menjadi seorang murobbi bagi sahabatnya-sahabatnya yang telah menjadi seorang murobbi.

Dan akupun menyadari, sehebat apapun kita jago berorasi, sepandai apapun kita dapat menyusun sebuah kata menjadi kalimat yang penuh arti, dan sebrilian apapun kita dapat berekspresi dalam menyampaikan sebuah materi. Tapi bila itu semua bukan menjadi akhlak kita, maka itu hanyalah sebuah dakwah palsu yang sedang dijalankan seorang pembohong sejati.

Aku menggenggam kedua tanganku disertai azzam yang kuat di dalam hatiku.

Dan ketika aku menggerakkan wajahku sedikit ke atas, berpapasanlah dengan wajahku sebuah sosok putih bersih dengan senyumnya yang khas, dialah Indra sahabatku. Ku mencoba membalas senyumnya dengan penuh haru. Berkelebat dipikiranku berbagai peristiwa nan hebat yang telah kami lalui, kepolosan yang dimilikinya membuat semua orang yang berada disekitarnya pasti tersenym simpul dibuatnya. Ku ingat dia bercerita ketika dengan penuh rasa malu menyaksikan seorang murabbi harus memungut plastik bekas bungkus batagor yang baru saja dibuangnya dan memasukkan kedalam tas ransel milik sang murabbi. Sebuah kejadian yang sarat akan hikmah yang telah menyadarkan ia akan pentingnya sebuah kebersihan. annazofatu minal iman, kebersihan itu sebagian dari iman.

Dan dia pula yang mengingatkan aku akan pentingnya sebuah penjagaan diri dari hal-hal yang dapat membuat murka sang Khalik. Sebuah sms yang sarat akan makna pula yang membuatku selalu mengingat pesan itu hingga saat ini, bahkan detik ini.

“Akhi..ada apa denganmu...bukankah dahulu dirimu yang selalu menasihati aku akan pentingnya menjaga kesucian diri...”

“Akhi.. jika seandainyapun sebuah hubungan yang dinamakan pacaran itu diperbolehkan, maka hak-hak nyalah yang wajib ditunaikan. Akhi...bila kita disini dengan seenaknya semau kita berpacaran. Lalu bagaimana dengan saudara-saudara kita di palestina sana..boro-boro mereka untuk berpacaran, berfikir tentang pendidikan saja mereka tak akan sempat akhi..”

Aku merenungi kata-kata sahabatku itu.

Bila orang yang mereka teladani saja seperti ini, lalu teladan yang mana lagikah yang dapat mereka ambil...? Lalu untuk apa lagi kata-kata manis yang selalu diperdengarkan kepada mereka selama ini..? nuraniku pun mengingatkanku dengan penuh ketulusannya.


Aku mencoba kembali mendengarkan untaian materi yang diberikan sang murabbi yang sempat kutinggalkan semenjak tadi, beliau membawakan sebuah materi tentang sebuah persaudaraan. Dengan penuh kewibawaan, beliau menerangkan bahwa setiap pertemuan yang diawali dengan keindahan, maka tak sepantasnyalah harus diakhiri dengan sebuah kesedihan. Ingat, bisa saja perpisahan ini merupakan langkah awal untuk menuju pada sebuah pertemuan yang penuh dengan keridhoan.

Kami hanya bisa tertunduk lesu mendengarkan materi terakhir ini sembari menahan diri dari tangis yang semakin menjadi-jadi.

Sesudah sang murabbi memberikan materinya kami menutup pertemuan pekan ini yang merupakan pertemuan terakhir bagi kami dengan penuh keharuan. Sebuah pelukan erat yang diberikan sang murabbi dengan penuh kasih sayang menjadi puncak klimaks dalam serangkaian kejadian penuh haru di hari ahad yang cukup cerah ini. Seakan-akan Allah mengutus awan, dan sang mentari untuk menjadi penghibur duka lara bagi kami. Canda tawa, senyum simpul, dan humor polos yang biasa menghiasi kini berubah menjadi isak tangis bagi kami. Kafilah dakwah kini telah membelah diri, bak sesosok amoeba yang akan membentuk jasad yang baru, yang lebih mumpuni untuk mengekspresikan diri.

Bagaimanapun kami harus menerima ketentuan ini. Kami harus ingat, dibelahan dunia manapun kami berada disitulah kami harus berdakwah, disitulah kami harus menanam bibit-bibit generasi rabbani yang akan bisa kami panen suatu saat nanti.

Terima kasih untuk kalian semua akhi.. dan terima kasih untukmu wahai sang murabbi. Jasamu, Pengorbananmu, semoga menjadi ladang amal untukmu. Dan jangan lupa selalu doakan kami dalam sujudmu di malam hari, agar selalu istiqomah di jalan dakwah ini. Agar kita dapat bertemu kembali suatu hari nanti. Pada pertemuan yang diridhoi, insya Allah.

1 komentar:

Sang Pengalah mengatakan...

apa yang kau berikan untuk teman tuk sahabat tersayang.
hanya sebuah doa sederhana, doa dr nt tuk mereka...

semangat...

-blogwalking-

kok gag ada chit chatnya yah...?!


wassalam